Layang-layang bukan sekadar permainan anak-anak di Bali, melainkan bagian integral dari budaya dan spiritualitas masyarakat Pulau Dewata. Tradisi ini telah ada sejak lama, bahkan sebelum era kolonial, dan erat kaitannya dengan ritual keagamaan Umat Hindu di Bali. Layang-layang dianggap sebagai media komunikasi dengan dewa, untuk memohon angin yang baik untuk musim tanam, serta sebagai bentuk rasa syukur pascapanen. Fenomena ini dikenal dengan nama rare angon, yang berarti “anak gembala” dalam bahasa Bali, merujuk pada sosok mitologis yang dipercaya membawa angin dan berkah bagi pertanian.
Sejarah Rare Anggon
Dalam mitologi Bali, Rare Anggon adalah manifestasi dari Dewa Siwa yang turun ke bumi untuk melindungi tanaman dari hama dan penyakit. Para petani meyakini bahwa dengan menerbangkan layang-layang, mereka dapat memanggil angin yang membawa berkah dan menjauhkan bencana dari sawah mereka. Tradisi ini juga mencerminkan konsep Tri Hita Karana, yaitu harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.
Jenis-Jenis Layang-Layang Bali
Bebean (Ikan)
Layang-layang jenis ini berbentuk seperti ikan besar dengan mulut lebar dan ekor bercabang. layangan ini memiliki ukuran yang besar, Bebean sering kali menjadi yang paling mencolok di langit Bali. Tradisionalnya, layang-layang ini digunakan untuk memohon hasil laut yang melimpah.
Pecukan (Mata)
Pecukan menyerupai bentuk mata dengan ukuran yang lebih kecil dibandingkan Bebean. Layang-layang ini memerlukan keterampilan tinggi dalam penerbangannya karena bentuknya yang mudah terguling. Namun, keindahannya tetap memukau saat melayang di udara.
3. Janggan (Naga)
Janggan memiliki bentuk seperti naga atau burung ekor panjang dengan ekor yang dapat mencapai lebih dari 100 meter. Layang-layang ini sering kali menjadi simbol kekuatan dan keberanian. Keindahan dan keunikannya membuat Janggan menjadi favorit dalam festival layang-layang.
4. Kreasi Baru
Selain jenis tradisional, masyarakat Bali juga menciptakan layang-layang dengan desain inovatif, seperti representasi dewa-dewi Hindu atau bentuk-bentuk modern lainnya. Layang-layang jenis ini sering kali diperlombakan dalam kategori “Kreasi Baru” dalam festival.
Cara Membuat Layang-Layang Bali
Pembuatan layang-layang Bali melibatkan teknik dan bahan tradisional:
- Kerangka: Terbuat dari bambu yang lentur dan kuat.
- Bahan Penutup: Menggunakan kain katun atau kertas minyak yang ringan dan tahan angin.
- Pewarna: Menggunakan pewarna alami atau sintetis dengan warna khas seperti merah, putih, dan hitam.
- Rangkaian: Menggunakan benang kuat yang diikat dengan teknik khusus agar layang-layang dapat terbang stabil.
Proses pembuatan ini memerlukan ketelitian dan keterampilan tinggi, serta sering kali melibatkan komunitas dalam kegiatan gotong royong.
Festival Layang-Layang Terkenal: Bali Kite Festival
Festival Layang-Layang Bali adalah perayaan tahunan yang diadakan pada musim kemarau, antara bulan Juni hingga Agustus, saat angin bertiup kencang. Acara utama biasanya berlangsung pada tanggal 20–21 Juli 2025 di Pantai Padang Galak, Sanur.
Festival ini menampilkan berbagai jenis layang-layang tradisional seperti Bebean, Pecukan, dan Janggan, serta kategori Kreasi Baru. Setiap tim dari banjar (komunitas) membawa gamelan dan anggota yang terampil untuk menerbangkan layang-layang raksasa mereka. Acara ini juga menjadi ajang pertukaran budaya dengan peserta internasional.




